Waktu itu
kira-kira pukul 10 malam lebih sekian waktu home
sweet home, ada sebuah pesan di henpon keramat gue, kurang lebih isinya
begini.
"Mbak
masih dirumah nggak?"
Gue yang
deg-degan kali aja mau ditagih utang
dikasih kabar mencengangkan pun membalas dengan penuh tanda tanya.
"???????????"
*benar-benar balasan yang penuh tanda tanya :v
Putry pun
akhirnya menjelaskan tentang maksud hatinya untuk meminang mengajak gue buat main ke suatu tempat. Tempat
yang penuh kenangan, tentang gue dan masa esem'a gue. Tempat yang,, ah sudahlah
gue nggak kuat buat ngelanjutin. *sori, edisi baper.
Jadi
rencananya kita bakal main ke Batu Agung, sebuah desa kecil yang berada di
kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Bukan, kita bukan mau nggrebek rumah pak
Kades, kita cuma mau lihat apakah benar kita punya tempat indah di kandang
sendiri?
Iya acara
ini emang mendadak dangdut banget, tanpa persiapan, tanpa undangan, tanpa
putusan, dan tanpa bicara. *kayak lagu. Yah tapi tau sendiri lah biasanya yang
mendadak kan emang lebih asyikk, misal mendadak pinter, mendadak kaya, mendadak
terkenal, mendadak ulangan, mendadak nikah. Oke yang dua terakhir nggak usah
dibahas.
Kita
— maksudnya Putry, mba Intan, mas Saep, mas
Joko, mas Echa dan gue tentunya — udah stand by
di tempat pemberangkatan sekitar pukul 12 siang setelah adzan Duhur. Sebenernya
gue punya ide brilliant untuk mampir ke rumah temen kita di deket
situ buat numpang makan siang
sholat, tapi temen-temen menganggap ini ide yang merusak akhlak. It's okay.
Sebenarnya
gue nggak ngerti jelas jalan pikiran temen-temen gila gue ini, mereka ngajak
pergi tapi nggak tau arah dan jalan menuju lokasi. Asal jalan aja, yang penting
nyampe Kecamatan Balapulang aja gitu. Alhasil kita terdampar di pinggir jalan,
tepatnya di bawah pohon Ceri Jawa, menanti pertolongan dari temen kita yang
katanya orang pribumi, sebut saja Budi (nama yang sebenarnya). Mas Budi ini
asli orang Balapulang, namun sangat disayangkan ternyata mas Budi sendiri nggak
tau apa itu Batu Agung. *pak Lurah, tolong coret nama mas Budi dari data
kelurahan :v
Untungnya
Putry sang ketua panitia siaga menghubungi rekannya buat nanya arah, akhirnya
kita pun bisa sampai ke desa Batu Agung dengan gagahnya B-)
Tapi ow ow
ow, penderitaan belum usai kawan, ini baru nyampe desanya, belum lokasinya. Nah
ini, sedikit tips dari gue buat kalian yang suka mbolang tapi nggak tau arah,
pakai selalu GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Pepatah sesat mengatakan, malu bertanya, tanda tak dalam. *Oke,
sepertinya ada yang aneh.
Balik lagi
ke jalan. Nah ini nih, mas Budi memang luar biasa. Niatnya sih cuma nanya
jalan, tapi ujung-ujungnya malah dikenalin sama anaknya. Dan satu hal yang
mengusik pikiran gue, si Bapak yang ditanya nyebut nyebut nama pak Sabit
kira-kira 76 kali. Gue curiga ini pak Sabit punya pesona yang luar biasa, bisa
bisanya namanya sefenomenal itu.
Lanjut ke
perjalanan kita, well, akhirnya ada penduduk yang berbaik hati menunjukkan dan
mengantarkan kita ke lokasi. Thank you so much
pak, semoga bahagia.
Selepas
parkir di lokasi kami langsung memulai perjalanan naik dengan jiwa petualang. Ditemani anak-anak kecil —
selanjutnya kita sebut bocah gunung — yang lincah kesana kemari kesono dengan
percakapan khas mereka yang terkadang bahasanya susah untuk dimengerti, bahkan
bagi gue yang notabene cah Tegal asli. Eh tapi lebih susah buat
ngertiin kamu ding. *ehem.
Awal
perjalanan kita sangat semangat, terutama gue yang semangatnya ngalahin Bung
Tomo yang mengawal arek arek Suroboyo dalam rangka merobek warna biru dari
bendera di atas Hotel Yamato. *eh bener nggak sih ceritanya? :D
Oke back to the topic, jalanan yang tracknya cuma
lurusan aja emang dengan mudah bisa kita lewatin. Yah walaupun kanan kiri kuda liar rumput liar dengan tanah
kering berbatu yang tentunya bikin ngebul apalagi udah lama nggak keguyur ujan.
Lanjut track berikutnya yang cukup menanjak dengan batu batu besar yang kami
tapaki (yah, namanya juga batu Agung,, Batu itu batu dan Agung itu besar. Jadi
Batu Agung = batu yang besar besar) *ih pinter gue :D
Sebenarnya
Batu Agung itu nggak tinggi tinggi amat lho, tapi di track ini sumpritt entah
kenapa gue ngerasa capek banget, mungkin karena gue udah lama nggak
ngapa-ngapain di rumah. Yah, kegiatan gue selama libur di rumah ini cuma guling
gulingan — tidur — makan —
pup mandi.
Kembali ke
jalan yang benar. Beberapa kali gue berhenti buat minum dan tarik napas. Kali
ini bukan tarik napas karena lihat dia dibahagiain yang lain, bukan. Gue tak
selalu sengenes itu Gaess. Gue cuma capek. Iya, capek nungguin kamu lepas dari
dia. *emang ngenes ternyata -_-"
Ini nih foto
gue yang lagi kecapekan, itu bukan ekspresi nangis lho yaa.
No acting, no baper.
Sementara
gue masih duduk duduk di bebatuan menanjak, temen temen udah ada di atas siap
menggapai puncak. Gue pun akhirnya mulai naik lagi, sampe ke puncak tentunya.
Ada yang
bilang kalau ternyata Batu Agung tak seindah yang ada di internet, iya, memang
yang di internet itu indah, tapi yang ini indah bangeeeeeeeeeeett. Lebay?
Biarin.
Meskipun
terik matahari menyengat sendi sendi tulang, namun kesegaran angin mampu
mengubahnya menjadi kehangatan yang membahagiakan. Di atas sini memang angin
bertiup sangat kencang, gue aja hampir terbang, untung sendal gue berat, jadi
bisa buat nahan. Hahaa. Tapi serius, angin di sini seolah berkecamuk melawan
panasnya sang surya. Tapi raurus,
pokoknya gue nyaman aja di sini. The cold never
bothered me anyway. *korban kartun.
Dengan
pemandangan semenakjubkan ini, temen-temen pun memanfaatkannya buat
berfoto-foto alay keren. Tak lupa bikin bikin tulisan di kertas
biar kayak anak kekinian. Dari tulisan yang sangat biasa kemudian tulisan
motivasi sampai tulisan nyleneh pun mereka buat dengan sepenuh hati, jiwa dan
raga. Ini nih beberapa dari tulisan tulisan ajaib mereka.
Kata Motivasi
Disaat
yang lain pada asyik dengan tulisan tulisannya, sementara gue masih berperan
jadi Elsa dengan kalimat the cold never bothered me anyway, salah satu personil kami —
sebut saja Konde (nama disamarkan atas permintaan tetangga sebelah) —
mengalami gejala berkumpulnya gas yang tidak merata di dalam jaringan tubuh. Oke, masuk angin maksudnya. Konde yang merasa badannya nggak enak, cuma
bisa tepar di atas batu. Gue sih udah coba ngasih saran, yang nggak enak
dikasih kucing aja, tapi sepertinya saran itu sama sekali tak membantu.
Oke sejenak
kita tinggalkan Konde. By the way,
selain bocah gunung yang menemani kita menuju puncak, di sini juga ada tour guide atau pemandu yang siap nolongin
kita kalau kita mau naik-naik atau mau turun-turun. Jadi nggak usah takut kalau
kita mau minta tolong buat fotoin
nunjukin jalan ke tempat yang pengen kita naiki.
Ternyata
nggak cuma gue dan kawan-kawan yang ingin melihat indahnya pemandangan dari
atas sini, ada juga anak-anak sekolah dan pengunjung lain yang rata-rata remaja
labil ekstrem. Karena kita
makhluk sosial yang nggak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain, maka di
sini kita mencoba mengakrabkan diri dengan mereka. Mulai dari nanya tempat asal
sampe nanya jawaban essay halaman 27,3. Kayaknya ini memang keahlian khusus yang
dimiliki oleh mas Budi (lagi-lagi mas Budi), iya mas Budi bisa cepat sekali
akrab dengan rombongan anak esem'a itu. Nggak sia-sia, kita bisa minta tolong
difotoin sama mereka. Ini hasilnya.
Jangan tanya
mas Budi yang mana.
Memang satu
hal yang sangat disayangkan di sini, coba fokus sama batu batunya. Iyaa,
batunya penuh dengan coretan-coretan nggak penting.
Please kawan, bantu jaga alam ini. Ini aset lho. Jadi nggak indah kan? :(
Setelah puas
berfoto ria, gue kembali meresapi belaian angin
yang menjadi dingin (minjem kata-katanya Soe Hok Gie) sembari memandangi
mas-mas kece berkacamata
keindahan alam yang Allah suguhkan di depan gue. Thank
you Allah, ciptaan-Mu selalu yang terindah. *termasuk mantan terindah.
Di sini ada
satu nama yang sedari tadi belum kesebut dalam cerita. Mas Ade, adiknya mas
Kakak. Beliau dikabarkan mau nyusulin naik ke sini, tapi maju mundur cantik.
Bimbang antara makan bengbeng dingin
atau dimakan langsung mau naik tapi sendirian, dan mau pulang tapi udah
nanggung. Akhirnya setelah kami paksa
semangatin lewat telepon, mas Ade pun dengan bercucuran keringat, bermadikan
peluh berhasil menyusul sampe ke puncak. Give
applause buat mas Ade. Prok prok prok.
Kalau mas
Ade udah berhasil nyampe puncak, itu berarti saatnya kita buat turun. Wkwkwkk
baru beberapa menit udah diajak turun lagi. Sabar yaa mas Ade, Tegal memang
keras.
Lagi pula
hari semakin sore dan entah kenapa pengunjung terlihat semakin banyak. Mungkin
mereka ingin menikmati senja di puncak Batu Agung. Mungkin.
Sekitar
setengah empat kita pun turun dengan dorong-dorongan hati-hati. Di perjalanan turun ini kita ditemani salah satu
bocah gunung —
sebut saja Irfan; dari kaos bola yang ia pakai —
yang mengantarkan kita menuju parkiran. Oh iya lupa, sebelum turun ada salah
satu bocah gunung, kira-kira kelas 6 SD yang ngajakin gue foto bareng lho,
mungkin buat dokumentasi dan diaplod dengan hastag
#SaveKakakGemesDikitDikitLucuDikitDikitEnggak. Hahaa.
Sampai di
parkiran kita langsung cabut menuju rumah mas Budi buat minta makan silaturrahim sama keluarganya. Alhamdulillah
bisa istirahat sejenak, makan makan, minum minum, dan guling gulingan. Jam 5an
lebih kita pamit dengan alasan yang agak aneh menurut gue, mangke jawoh (nanti hujan). Padahal kan ini
masih kemarau panjang. Eh tapi mungkin juga sih, kayak lagu Malaysia
"kusangka kan panas berpanjangan, rupanya gerimis rupanya gerimis
mengundang, ah ha ha haa". *semoga bener ya liriknya.
Oh iya balik
lagi ke parkiran, for your information
aja, akhirnya kita ketemu sama pak Sabit, ternyata beliau memang seram mempesona. Pemilik parkiran
yang katanya namanya cuma satu di jagat Balapulang. Untuk membuktikan, kapan
kapan bolehlah sensus penduduk di sini. Well.
Di jalan
pulang, gue kembali mengantuk karena
kenyang menatap pohon jati yang menjulang tinggi. Aku tidak ingin menjadi pohon Bambu, aku ingin jadi
pohon Oak yang berani melawan angin (minjem kata kata Soe Hok Gie lagi,
iya nanti gue balikin). Tapi hubungannya Jati sama Bambu atau Oak apa yah?
*yang penting sama sama tanaman ini lah.
Jalan pulang
emang nggak kerasa, tiba-tiba udah nyampe Slawi aja. For your information lagi, Balapulang nggak jauh jauh amat lho
dari Slawi. Boleh lah sekali kali nyepeda ontel ke sana. Sampe Slawi gue ditelantarkan turun dan pulang pake
motor sendirian ke home sweet home dan
sampe ke rumah lagi dengan keadaan yang masih awesome.
Ahahaa.
Kalau gue
udah nyampe rumah berarti cerita ini udah selesai dong? Belum.
Sebelum gue
menyelesaikan orek-orekan waras ini, gue mau ngucapin thanks a lot buat kakak kakak gemes yang udah menemani
pembolangan hari ini. Special thanks
buat Putry sang ketua panitia dan mas Echa yang udah sampe muntah muntah
ngeboncengin gue. Hahaa. Pokoknya makasih buat kalian, hari gue asyik.
Jadi, kapan
kita mbolang lagi? :)
"Kita
lawan bersama dingin dan panas dunia
Saat kaki
telah lelah, kita saling menopang.."
[Sheila
On7-Saat Aku Lanjut Usia]





hahahahaha echa ora hebat... sampe muntah2...
BalasHapuswkwkwkk Jangan mengeluh, Jadilah Tangguh :D (y)
Hapusthanks udah mampir :)
hehehehehe..... lebih tangguh anis
HapusSemangaaaattt !!!!!!!
Hapusmakasihhh sudah membuatku semangat..??/
BalasHapus