Rabu, 26 Agustus 2015

Batu Agung Punya Cerita

Waktu itu kira-kira pukul 10 malam lebih sekian waktu home sweet home, ada sebuah pesan di henpon keramat gue, kurang lebih isinya begini.

"Mbak masih dirumah nggak?"
Gue yang deg-degan kali aja mau ditagih utang dikasih kabar mencengangkan pun membalas dengan penuh tanda tanya.
"???????????" *benar-benar balasan yang penuh tanda tanya :v
Putry pun akhirnya menjelaskan tentang maksud hatinya untuk meminang mengajak gue buat main ke suatu tempat. Tempat yang penuh kenangan, tentang gue dan masa esem'a gue. Tempat yang,, ah sudahlah gue nggak kuat buat ngelanjutin. *sori, edisi baper.

Jadi rencananya kita bakal main ke Batu Agung, sebuah desa kecil yang berada di kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Bukan, kita bukan mau nggrebek rumah pak Kades, kita cuma mau lihat apakah benar kita punya tempat indah di kandang sendiri?

Iya acara ini emang mendadak dangdut banget, tanpa persiapan, tanpa undangan, tanpa putusan, dan tanpa bicara. *kayak lagu. Yah tapi tau sendiri lah biasanya yang mendadak kan emang lebih asyikk, misal mendadak pinter, mendadak kaya, mendadak terkenal, mendadak ulangan, mendadak nikah. Oke yang dua terakhir nggak usah dibahas.

Kita maksudnya Putry, mba Intan, mas Saep, mas Joko, mas Echa dan gue tentunya udah stand by di tempat pemberangkatan sekitar pukul 12 siang setelah adzan Duhur. Sebenernya gue punya ide brilliant untuk mampir ke rumah temen kita di deket situ buat numpang makan siang sholat, tapi temen-temen menganggap ini ide yang merusak akhlak. It's okay.

Sebenarnya gue nggak ngerti jelas jalan pikiran temen-temen gila gue ini, mereka ngajak pergi tapi nggak tau arah dan jalan menuju lokasi. Asal jalan aja, yang penting nyampe Kecamatan Balapulang aja gitu. Alhasil kita terdampar di pinggir jalan, tepatnya di bawah pohon Ceri Jawa, menanti pertolongan dari temen kita yang katanya orang pribumi, sebut saja Budi (nama yang sebenarnya). Mas Budi ini asli orang Balapulang, namun sangat disayangkan ternyata mas Budi sendiri nggak tau apa itu Batu Agung. *pak Lurah, tolong coret nama mas Budi dari data kelurahan :v

Untungnya Putry sang ketua panitia siaga menghubungi rekannya buat nanya arah, akhirnya kita pun bisa sampai ke desa Batu Agung dengan gagahnya B-)
Tapi ow ow ow, penderitaan belum usai kawan, ini baru nyampe desanya, belum lokasinya. Nah ini, sedikit tips dari gue buat kalian yang suka mbolang tapi nggak tau arah, pakai selalu GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Pepatah sesat mengatakan, malu bertanya, tanda tak dalam. *Oke, sepertinya ada yang aneh.

Balik lagi ke jalan. Nah ini nih, mas Budi memang luar biasa. Niatnya sih cuma nanya jalan, tapi ujung-ujungnya malah dikenalin sama anaknya. Dan satu hal yang mengusik pikiran gue, si Bapak yang ditanya nyebut nyebut nama pak Sabit kira-kira 76 kali. Gue curiga ini pak Sabit punya pesona yang luar biasa, bisa bisanya namanya sefenomenal itu.

Lanjut ke perjalanan kita, well, akhirnya ada penduduk yang berbaik hati menunjukkan dan mengantarkan kita ke lokasi. Thank you so much pak, semoga bahagia.
Selepas parkir di lokasi kami langsung memulai perjalanan naik dengan  jiwa petualang. Ditemani anak-anak kecil selanjutnya kita sebut bocah gunung yang lincah kesana kemari kesono dengan percakapan khas mereka yang terkadang bahasanya susah untuk dimengerti, bahkan bagi gue yang notabene cah Tegal asli. Eh tapi lebih susah buat ngertiin kamu ding. *ehem.

Awal perjalanan kita sangat semangat, terutama gue yang semangatnya ngalahin Bung Tomo yang mengawal arek arek Suroboyo dalam rangka merobek warna biru dari bendera di atas Hotel Yamato. *eh bener nggak sih ceritanya? :D
Oke back to the topic, jalanan yang tracknya cuma lurusan aja emang dengan mudah bisa kita lewatin. Yah walaupun kanan kiri kuda liar rumput liar dengan tanah kering berbatu yang tentunya bikin ngebul apalagi udah lama nggak keguyur ujan. Lanjut track berikutnya yang cukup menanjak dengan batu batu besar yang kami tapaki (yah, namanya juga batu Agung,, Batu itu batu dan Agung itu besar. Jadi Batu Agung = batu yang besar besar) *ih pinter gue :D
Sebenarnya Batu Agung itu nggak tinggi tinggi amat lho, tapi di track ini sumpritt entah kenapa gue ngerasa capek banget, mungkin karena gue udah lama nggak ngapa-ngapain di rumah. Yah, kegiatan gue selama libur di rumah ini cuma guling gulingan tidur makan pup mandi.

Kembali ke jalan yang benar. Beberapa kali gue berhenti buat minum dan tarik napas. Kali ini bukan tarik napas karena lihat dia dibahagiain yang lain, bukan. Gue tak selalu sengenes itu Gaess. Gue cuma capek. Iya, capek nungguin kamu lepas dari dia. *emang ngenes ternyata -_-"

Ini nih foto gue yang lagi kecapekan, itu bukan ekspresi nangis lho yaa.
 No acting, no baper.

Sementara gue masih duduk duduk di bebatuan menanjak, temen temen udah ada di atas siap menggapai puncak. Gue pun akhirnya mulai naik lagi, sampe ke puncak tentunya.

Ada yang bilang kalau ternyata Batu Agung tak seindah yang ada di internet, iya, memang yang di internet itu indah, tapi yang ini indah bangeeeeeeeeeeett. Lebay? Biarin.
Meskipun terik matahari menyengat sendi sendi tulang, namun kesegaran angin mampu mengubahnya menjadi kehangatan yang membahagiakan. Di atas sini memang angin bertiup sangat kencang, gue aja hampir terbang, untung sendal gue berat, jadi bisa buat nahan. Hahaa. Tapi serius, angin di sini seolah berkecamuk melawan panasnya sang surya. Tapi raurus, pokoknya gue nyaman aja di sini. The cold never bothered me anyway. *korban kartun.

Dengan pemandangan semenakjubkan ini, temen-temen pun memanfaatkannya buat berfoto-foto alay  keren. Tak lupa bikin bikin tulisan di kertas biar kayak anak kekinian. Dari tulisan yang sangat biasa kemudian tulisan motivasi sampai tulisan nyleneh pun mereka buat dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Ini nih beberapa dari tulisan tulisan ajaib mereka.
Kata Motivasi
 
          
Tulisan Biasa                               Kode Keras

Disaat yang lain pada asyik dengan tulisan tulisannya, sementara gue masih berperan jadi Elsa dengan kalimat the cold never bothered me anyway, salah satu personil kami sebut saja Konde (nama disamarkan atas permintaan tetangga sebelah) mengalami gejala berkumpulnya gas yang tidak merata di dalam jaringan tubuh. Oke, masuk angin maksudnya. Konde yang merasa badannya nggak enak, cuma bisa tepar di atas batu. Gue sih udah coba ngasih saran, yang nggak enak dikasih kucing aja, tapi sepertinya saran itu sama sekali tak membantu.
Oke sejenak kita tinggalkan Konde. By the way, selain bocah gunung yang menemani kita menuju puncak, di sini juga ada tour guide atau pemandu yang siap nolongin kita kalau kita mau naik-naik atau mau turun-turun. Jadi nggak usah takut kalau kita mau minta tolong buat fotoin nunjukin jalan ke tempat yang pengen kita naiki.

Ternyata nggak cuma gue dan kawan-kawan yang ingin melihat indahnya pemandangan dari atas sini, ada juga anak-anak sekolah dan pengunjung lain yang rata-rata remaja labil ekstrem. Karena kita makhluk sosial yang nggak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain, maka di sini kita mencoba mengakrabkan diri dengan mereka. Mulai dari nanya tempat asal sampe nanya jawaban essay halaman 27,3. Kayaknya ini memang keahlian khusus yang dimiliki oleh mas Budi (lagi-lagi mas Budi), iya mas Budi bisa cepat sekali akrab dengan rombongan anak esem'a itu. Nggak sia-sia, kita bisa minta tolong difotoin sama mereka. Ini hasilnya.

Jangan tanya mas Budi yang mana.

Memang satu hal yang sangat disayangkan di sini, coba fokus sama batu batunya. Iyaa, batunya penuh dengan coretan-coretan nggak penting. Please kawan, bantu jaga alam ini. Ini aset lho. Jadi nggak indah kan? :(

Setelah puas berfoto ria, gue kembali meresapi belaian angin yang menjadi dingin (minjem kata-katanya Soe Hok Gie) sembari memandangi mas-mas kece berkacamata keindahan alam yang Allah suguhkan di depan gue. Thank you Allah, ciptaan-Mu selalu yang terindah. *termasuk mantan terindah.

Di sini ada satu nama yang sedari tadi belum kesebut dalam cerita. Mas Ade, adiknya mas Kakak. Beliau dikabarkan mau nyusulin naik ke sini, tapi maju mundur cantik. Bimbang antara makan bengbeng dingin atau dimakan langsung mau naik tapi sendirian, dan mau pulang tapi udah nanggung. Akhirnya setelah kami paksa semangatin lewat telepon, mas Ade pun dengan bercucuran keringat, bermadikan peluh berhasil menyusul sampe ke puncak. Give applause buat mas Ade. Prok prok prok.
Kalau mas Ade udah berhasil nyampe puncak, itu berarti saatnya kita buat turun. Wkwkwkk baru beberapa menit udah diajak turun lagi. Sabar yaa mas Ade, Tegal memang keras.
Lagi pula hari semakin sore dan entah kenapa pengunjung terlihat semakin banyak. Mungkin mereka ingin menikmati senja di puncak Batu Agung. Mungkin.

Sekitar setengah empat kita pun turun dengan dorong-dorongan hati-hati. Di perjalanan turun ini kita ditemani salah satu bocah gunung   sebut saja Irfan; dari kaos bola yang ia pakai yang mengantarkan kita menuju parkiran. Oh iya lupa, sebelum turun ada salah satu bocah gunung, kira-kira kelas 6 SD yang ngajakin gue foto bareng lho, mungkin buat dokumentasi dan diaplod dengan hastag #SaveKakakGemesDikitDikitLucuDikitDikitEnggak. Hahaa.

Sampai di parkiran kita langsung cabut menuju rumah mas Budi buat minta makan silaturrahim sama keluarganya. Alhamdulillah bisa istirahat sejenak, makan makan, minum minum, dan guling gulingan. Jam 5an lebih kita pamit dengan alasan yang agak aneh menurut gue, mangke jawoh (nanti hujan). Padahal kan ini masih kemarau panjang. Eh tapi mungkin juga sih, kayak lagu Malaysia "kusangka kan panas berpanjangan, rupanya gerimis rupanya gerimis mengundang, ah ha ha haa". *semoga bener ya liriknya.
Oh iya balik lagi ke parkiran, for your information aja, akhirnya kita ketemu sama pak Sabit, ternyata beliau memang seram mempesona. Pemilik parkiran yang katanya namanya cuma satu di jagat Balapulang. Untuk membuktikan, kapan kapan bolehlah sensus penduduk di sini. Well.

Di jalan pulang, gue kembali mengantuk karena kenyang menatap pohon jati yang menjulang tinggi. Aku tidak ingin menjadi pohon Bambu, aku ingin jadi pohon Oak yang berani melawan angin (minjem kata kata Soe Hok Gie lagi, iya nanti gue balikin). Tapi hubungannya Jati sama Bambu atau Oak apa yah? *yang penting sama sama tanaman ini lah.

Jalan pulang emang nggak kerasa, tiba-tiba udah nyampe Slawi aja. For your information lagi, Balapulang nggak jauh jauh amat lho dari Slawi. Boleh lah sekali kali nyepeda ontel ke sana. Sampe Slawi gue ditelantarkan turun dan pulang pake motor sendirian ke home sweet home dan sampe ke rumah lagi dengan keadaan yang masih awesome. Ahahaa.

Kalau gue udah nyampe rumah berarti cerita ini udah selesai dong? Belum.
Sebelum gue menyelesaikan orek-orekan waras ini, gue mau ngucapin thanks a lot buat kakak kakak gemes yang udah menemani pembolangan hari ini. Special thanks buat Putry sang ketua panitia dan mas Echa yang udah sampe muntah muntah ngeboncengin gue. Hahaa. Pokoknya makasih buat kalian, hari gue asyik.
Jadi, kapan kita mbolang lagi? :)

"Kita lawan bersama dingin dan panas dunia
Saat kaki telah lelah, kita saling menopang.."
[Sheila On7-Saat Aku Lanjut Usia]

5 komentar: