Jika kau tak suka gunung untuk kau tapaki, tak apa. Masih ada
Pantai yang ombaknya mampu meredakan ego bila kau dengarkan. Namun jika kau tak
suka pantai, pun tak apa.
Masih ada mentari pagi yang di jingganya ada kekuatan
besar untuk kau resapi. Namun jika kau tak suka mentari pagi, pun tak apa.
Masih ada senja yang elok untuk kau pandang. Namun jika kau tak suka senja, pun
tak apa. Masih ada rembulan terang yang sinarnya mampu hadirkan ketenangan di
hati setiap insan. Namun jika kau tak suka rembulan, pun tak apa. Masih ada
gemerlap bintang yang di antara kerlipnya ada keceriaan untuk kau rasa. Namun
jika kau tak suka gemerlap bintang, pun tak apa. Masih ada bintang redup yang
walaupun kau tak melihatnya, dia sejatinya ada menemanimu. Selalu menemanimu,
tanpa kau sadari.
Kau tahu bintang redup itu apa?
Baiklah, kau mungkin tak ingin tahu.
Tak apa, sekali lagi tak apa.
Mungkin memang kau tak perlu tahu.
Sungguh, tak apa..
Tapi satu hal yang perlu kau percaya; oh tidak, kau tak perlu
percaya. Kau cukup mengingatnya saja. Ya sudah, kau tak perlu mengingatnya;
cukup kau mengerti saja. Oke oke, tak perlu kau mengerti; kau cukup
mengetahuinya saja; cukup tahu saja.
Hemm,,
Suatu saat,,
Jika mungkin kau akhirnya merindu pada yang merindumu,
Atau setidaknya mungkin kau penasaran dengan sosok itu,
keluarlah.
Carilah bintang redup itu.
Bintang yang hadir, bias di antara jutaan bintang terang
lainnya.
Bintang yang akan kau tatap lebih lama, karena mungkin ia
tidak begitu nampak.
Iyaa, bintang redup itu.
Benar, di sana ada sekeping hati.
Yah, sekeping hati yang merindumu..
Masih merindumu..
"Tahukah lagu yang kau suka?
Tahukah bintang yang kau sapa?
Tahukah rumah yang kau tuju?
Itu aku.."
[Sheila On7-Itu Aku]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar