Bagi lo
yang sedang menempuh pendidikan atau bekerja di luar kota, pasti pernah
merasakan gejolak rindu yang menggelora terhadap kampung halaman. Baik itu suasana rumah, keluarga,
kawan-kawan masa kecil di rumah, sampai tukang jajanan yang tiap sore lewat di
depan rumah. Fenomena ini sering disebut dengan gejala rindu rumah atau bahasa
kerennya Homesick.
Homesick biasanya
sering melanda di tanggal tua atau akhir bulan. Yah, karena duit di kantong
tinggal beberapa helai. Membayangkan seandainya berada di rumah dengan segala
fasilitas seperti makan siang yang sudah disediakan oleh Ibu kita nggak pake
Kartini, sabun mandi, sampo, dan pasta gigi yang nggak perlu ditekuk-tekuk terus digiles pake botol biar isinya keluar
semua sampai gepeng segepeng-gepengnya, atau hal-hal lain yang tentunya menggambarkan
betapa tragisnya hidup lo ditanggal tua. *iya gue juga.
Namun
gejala homesick bagi gue bukan
sekedar rindu akan indahnya segala kenyamanan material berupa fasilitas hidup
yang memadai seperti yang gue jelaskan di atas, tapi lebih pada kenyamanan hakiki ketika gue dekat dengan kedua orang tua gue, saudara-saudara gue, dan
segala kenyamanan batin yang gue rasakan ketika berada di kampung halaman. Buat
gue, nyaman itu bukan karena semua kebutuhan dan keinginan raga kita terpenuhi,
tapi lebih pada kedamaian jiwa yang membuat hati kita merasa tenang.
Homesick tidak
hanya dirasakan oleh para perantau saja, kadang temen gue yang rumahnya cuma
kepleset dari tempat kuliah aja nyampe (deket banget maksudnya) sering bilang
rindu rumah, rindu adiknya, dan rindu pak RT, padahal tiap hari mereka ketemu.
Ini membuktikan bahwa rindu itu bisa menyerang jiwa siapa pun selagi ia mampu
merasakan apa itu cinta. *Uhukk.
Kerinduan
ini bisa diobati dengan pulang kampung untuk menemui yang dirindui. Hal ini
mudah buat lo yang jarak antara rumah dan tempat perantauannya lumayan dekat,
tapi bagi yang kampung halaman dan tempat perantauan sangat jauh, ini beda lagi
ceritanya. Seperti misalnya lo kuliah di Jogja sedangkan kampung halaman lo di
kutub utara, pasti untuk pulang kampung membutuhkan waktu yang lama dan biaya
yang nggak sedikit. Jadi misalnya libur kuliah lo cuma 2 jam, mending gue
saranin nggak usah ngoyo pulang karena waktu lo bakalan habis di jalan. Nah,
untuk mengobati rasa rindu yang lo rasakan, gue punya beberapa tips yang bisa
lo coba tanpa harus naik awan Kinton biar bisa nyampe ke rumah. Apa saja
tipsnya? Check this out ..
1.
Sering-seringlah menelepon rumah
Intensitas
kita dalam menelepon orang rumah dapat mengurangi rasa rindu yang sedang kita
hadapi. Semakin sering lo nelpon rumah, maka rasa rindu lo bisa terkikis habis
dan lo bahkan bisa merasa bahwa lo
sedang berada di rumah dengan komunikasi yang biasa lo lakukan setiap harinya.
Ini tentu berbahaya, karena esensi dari rasa rindu justru tidak terasa karena
lo keseringan nelpon rumah, misal tiap lima detik sekali.
Waktu
yang tepat buat nelpon rumah menurut gue itu sekitar setiap dua Minggu sekali,
tidak terlalu sering namun tidak terlalu jarang juga.
Namun
ketika rasa rindu itu terasa sangat mendesak, bolehlah lo nelpon mendadak untuk
sekedar menanyakan kabar atau nanyain piaran tetangga lo. Walau pun raga lo
nggak di rumah atau raga mereka nggak di samping lo, tapi se-enggaknya lo bisa
memeluk suara mereka dari kejauhan. *Ciee.
2.
Ngumpul sama teman-teman se-daerah lo yang
sama-sama lagi merantau
Menurut
survey yang belum pernah gue lakukan, gue dapat menyimpulkan bahwa acara
ngumpul sama teman satu spesies itu bisa mengurangi rasa rindu akan kampung
halaman sekitar 64,73%. Dengan kita bertemu dan berbagi dengan teman yang
senasib ─ dalam hal ini se-daerah ─ setidaknya kita bisa menemukan hal yang
biasa kita lakukan di rumah. Misalnya kita bisa ngomong pakai bahasa planet
kita, ngobrolin tempat-tempat makanan enak di daerah kita, atau cerita tentang sinetron
yang lagi nge-hits di kalangan
ibu-ibu rumpi di tempat sayur.
Hal-hal
tersebut setidaknya dapat mengurangi rasa rindu kita terhadap kampung halaman.
Namun ada beberapa hal yang tidak disarankan dalam berkumpul dengan teman
se-daerah yang sama-sama lagi merantau, salah satunya yaitu ngumpul sama teman
se-daerah tapi beda tempat perantauan. Misalnya lo merantau di Jakarta, sedangkan
teman se-daerah lo merantau di Equador. Gue saranin mending lo pulang kampung
aja sekalian.
3.
Dengerin lagu-lagu daerah
Mendengarkan
lagu daerah akan membuat kita seolah sedang berada di teras rumah sambil
ngeliatin anak ayam lagi lari-lari ngejar induknya dan tiba-tiba boker dengan gagahnya.
Lagu daerah yang dinikmati ketika kita sedang di rantau akan berbeda rasanya
ketika kita menikmatinya di rumah, karena biasanya akan lebih mengena
penghayatan dan penjiwaannya sehingga terkesan lebih gereget. Selain itu lagu
daerah juga biasanya dapat menggambarkan betapa indahnya kebudayaan dan
keelokan daerah kita sehingga kita bisa semakin mencintai kampung halaman kita
dan tanpa sadar tiba-tiba air mata dapat mengalir deras dari sudut gelap mata
kita. *Kok jadi sendu gini sih :’(
4.
Cari atau buat makanan dan minuman daerah lo
sendiri
Makanan dan
minuman daerah juga merupakan ciri khas tersendiri bagi suatu daerah. Boleh
dibilang makanan atau minuman daerah ini jiwanya suatu daerah. Mengapa
demikian? Karena makanan atau minuman khas adalah gambaran dari suatu daerah.
Misalnya daerah Tegal mempunyai makanan khas Martabak dan Tahu Aci, juga
minuman khas Teh Poci yang sudah melegenda dan go internasional, karena mayoritas penduduknya doyan banget
“ndopok” atau ngobrol santai perkara apa pun sambil menikmati secangkir teh dan jajanan yang
berkualitas. *Nihuuy, promosi daerah juga B-)
Nah, misalkan
lo nggak nemuin makanan atau minuman khas daerah lo di perantauan, lo bisa coba
bikin sendiri sekalian mengeksplor apa sebenarnya rahasia dari resep makanan
atau minuman daerah lo itu. Syukur-syukur bisa lo kembangin buat kerja
sampingan di rantau, siapa tau lo bisa membawa nama daerah lo ke kancah
internasional dan semua warga di daerah lo jadi bangga sama lo terutama Walikotanya,
yang ujungnya lo bakal dijodohin sama anaknya pak Walikota yang kecantikannya
atau ketampanannya tak tertandingi, dan akhirnya kalian hidup bahagia
selamanya. *Oke, ini khayalan yang terlalu jauh.
Mungkin
itu aja tips yang bisa gue share,
semoga dengan mempraktikkan tips dari gue itu kerinduan lo akan kampung halaman
dapat terobati. Buat yang masih merasakan homesick,
semoga kerinduan lo itu semakin membuncah dan lo bisa sadar betapa indah
anugerah yang Tuhan karuniakan ke lo yang sebelumnya nggak lo sadari ketika berada di rumah. Tapi
jika semua tips di atas belom bisa menyelesiakan homesick-lo, mungkin sudah saatnya lo pulang dan menjamah langsung
kehangatan rumah lo itu. :)
May,9th2015Satmor@myKost:*



Kunbal jangan lupa ya ..
BalasHapusTerimakasih kunjungannya, udah saya kunbal noh :D
Hapusgyahahaha....
BalasHapusbongkrek aja kemutan
wahahaa Bongkrek yang terlewatkan :D
HapusAniiiiiiis! Whoaaa~ ngebaca tulisanmu kiye, aku ngakak sambil menangis terguling-guling beruraian air sumur kyeh Nuiz! trus dadi ngelih pengen mangan tahu aci, martabrak, plus rujak teplak original khas slawi sing biasa mangkal ngarep MC.. wkwk duh.. keren Nuiz tulisane~ :) miss you
BalasHapusMiss you too Wiew, pulanglah kembali.. aku pun merindumu ..
HapusSedap komentarnya, tetep semangat melestarikan makanan khas kita. semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattt :)