Sabtu, 09 Mei 2015

Homesick Created by: Anis Sani Fitriyah



Bagi lo yang sedang menempuh pendidikan atau bekerja di luar kota, pasti pernah merasakan gejolak rindu yang menggelora terhadap kampung  halaman. Baik itu suasana rumah, keluarga, kawan-kawan masa kecil di rumah, sampai tukang jajanan yang tiap sore lewat di depan rumah. Fenomena ini sering disebut dengan gejala rindu rumah atau bahasa kerennya Homesick.

Homesick biasanya sering melanda di tanggal tua atau akhir bulan. Yah, karena duit di kantong tinggal beberapa helai. Membayangkan seandainya berada di rumah dengan segala fasilitas seperti makan siang yang sudah disediakan oleh Ibu kita nggak pake Kartini, sabun mandi, sampo, dan pasta gigi yang nggak perlu ditekuk-tekuk  terus digiles pake botol biar isinya keluar semua sampai gepeng segepeng-gepengnya, atau hal-hal lain yang tentunya menggambarkan betapa tragisnya hidup lo ditanggal tua. *iya gue juga.
Namun gejala homesick bagi gue bukan sekedar rindu akan indahnya segala kenyamanan material berupa fasilitas hidup yang memadai seperti yang gue jelaskan di atas, tapi lebih pada kenyamanan hakiki ketika gue dekat dengan kedua orang tua gue, saudara-saudara gue, dan segala kenyamanan batin yang gue rasakan ketika berada di kampung halaman. Buat gue, nyaman itu bukan karena semua kebutuhan dan keinginan raga kita terpenuhi, tapi lebih pada kedamaian jiwa yang membuat hati kita merasa tenang.
Homesick tidak hanya dirasakan oleh para perantau saja, kadang temen gue yang rumahnya cuma kepleset dari tempat kuliah aja nyampe (deket banget maksudnya) sering bilang rindu rumah, rindu adiknya, dan rindu pak RT, padahal tiap hari mereka ketemu. Ini membuktikan bahwa rindu itu bisa menyerang jiwa siapa pun selagi ia mampu merasakan apa itu cinta. *Uhukk.
Kerinduan ini bisa diobati dengan pulang kampung untuk menemui yang dirindui. Hal ini mudah buat lo yang jarak antara rumah dan tempat perantauannya lumayan dekat, tapi bagi yang kampung halaman dan tempat perantauan sangat jauh, ini beda lagi ceritanya. Seperti misalnya lo kuliah di Jogja sedangkan kampung halaman lo di kutub utara, pasti untuk pulang kampung membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang nggak sedikit. Jadi misalnya libur kuliah lo cuma 2 jam, mending gue saranin nggak usah ngoyo pulang karena waktu lo bakalan habis di jalan. Nah, untuk mengobati rasa rindu yang lo rasakan, gue punya beberapa tips yang bisa lo coba tanpa harus naik awan Kinton biar bisa nyampe ke rumah. Apa saja tipsnya? Check this out ..
1.     Sering-seringlah menelepon rumah
Intensitas kita dalam menelepon orang rumah dapat mengurangi rasa rindu yang sedang kita hadapi. Semakin sering lo nelpon rumah, maka rasa rindu lo bisa terkikis habis dan lo bahkan bisa  merasa bahwa lo sedang berada di rumah dengan komunikasi yang biasa lo lakukan setiap harinya. Ini tentu berbahaya, karena esensi dari rasa rindu justru tidak terasa karena lo keseringan nelpon rumah, misal tiap lima detik sekali.
Waktu yang tepat buat nelpon rumah menurut gue itu sekitar setiap dua Minggu sekali, tidak terlalu sering namun tidak terlalu jarang juga.
Namun ketika rasa rindu itu terasa sangat mendesak, bolehlah lo nelpon mendadak untuk sekedar menanyakan kabar atau nanyain piaran tetangga lo. Walau pun raga lo nggak di rumah atau raga mereka nggak di samping lo, tapi se-enggaknya lo bisa memeluk suara mereka dari kejauhan. *Ciee.
2.    Ngumpul sama teman-teman se-daerah lo yang sama-sama lagi merantau
Menurut survey yang belum pernah gue lakukan, gue dapat menyimpulkan bahwa acara ngumpul sama teman satu spesies itu bisa mengurangi rasa rindu akan kampung halaman sekitar 64,73%. Dengan kita bertemu dan berbagi dengan teman yang senasib ­­─ dalam hal ini se-daerah ─ setidaknya kita bisa menemukan hal yang biasa kita lakukan di rumah. Misalnya kita bisa ngomong pakai bahasa planet kita, ngobrolin tempat-tempat makanan enak di daerah kita, atau cerita tentang sinetron yang lagi nge-hits di kalangan ibu-ibu rumpi di tempat sayur.
Hal-hal tersebut setidaknya dapat mengurangi rasa rindu kita terhadap kampung halaman. Namun ada beberapa hal yang tidak disarankan dalam berkumpul dengan teman se-daerah yang sama-sama lagi merantau, salah satunya yaitu ngumpul sama teman se-daerah tapi beda tempat perantauan. Misalnya lo merantau di Jakarta, sedangkan teman se-daerah lo merantau di Equador. Gue saranin mending lo pulang kampung aja sekalian.
3.    Dengerin lagu-lagu daerah
Mendengarkan lagu daerah akan membuat kita seolah sedang berada di teras rumah sambil ngeliatin anak ayam lagi lari-lari ngejar induknya dan tiba-tiba boker dengan gagahnya. Lagu daerah yang dinikmati ketika kita sedang di rantau akan berbeda rasanya ketika kita menikmatinya di rumah, karena biasanya akan lebih mengena penghayatan dan penjiwaannya sehingga terkesan lebih gereget. Selain itu lagu daerah juga biasanya dapat menggambarkan betapa indahnya kebudayaan dan keelokan daerah kita sehingga kita bisa semakin mencintai kampung halaman kita dan tanpa sadar tiba-tiba air mata dapat mengalir deras dari sudut gelap mata kita. *Kok jadi sendu gini sih :’(
4.    Cari atau buat makanan dan minuman daerah lo sendiri
Makanan dan minuman daerah juga merupakan ciri khas tersendiri bagi suatu daerah. Boleh dibilang makanan atau minuman daerah ini jiwanya suatu daerah. Mengapa demikian? Karena makanan atau minuman khas adalah gambaran dari suatu daerah. Misalnya daerah Tegal mempunyai makanan khas Martabak dan Tahu Aci, juga minuman khas Teh Poci yang sudah melegenda dan go internasional, karena mayoritas penduduknya doyan banget “ndopok” atau ngobrol santai perkara apa pun sambil  menikmati secangkir teh dan jajanan yang berkualitas. *Nihuuy, promosi daerah juga B-)







Ini nih bentuk dan rupa dari Martabak dan Tahu Aci


 Kalau yang ini nih Teh Poci Slawi

Nah, misalkan lo nggak nemuin makanan atau minuman khas daerah lo di perantauan, lo bisa coba bikin sendiri sekalian mengeksplor apa sebenarnya rahasia dari resep makanan atau minuman daerah lo itu. Syukur-syukur bisa lo kembangin buat kerja sampingan di rantau, siapa tau lo bisa membawa nama daerah lo ke kancah internasional dan semua warga di daerah lo jadi bangga sama lo terutama Walikotanya, yang ujungnya lo bakal dijodohin sama anaknya pak Walikota yang kecantikannya atau ketampanannya tak tertandingi, dan akhirnya kalian hidup bahagia selamanya. *Oke, ini khayalan yang terlalu jauh.

Mungkin itu aja tips yang bisa gue share, semoga dengan mempraktikkan tips dari gue itu kerinduan lo akan kampung halaman dapat terobati. Buat yang masih merasakan homesick, semoga kerinduan lo itu semakin membuncah dan lo bisa sadar betapa indah anugerah yang Tuhan karuniakan ke lo yang sebelumnya  nggak lo sadari ketika berada di rumah. Tapi jika semua tips di atas belom bisa menyelesiakan homesick-lo, mungkin sudah saatnya lo pulang dan menjamah langsung kehangatan rumah lo itu. :)


May,9th2015Satmor@myKost:*

6 komentar:

  1. Balasan
    1. Terimakasih kunjungannya, udah saya kunbal noh :D

      Hapus
  2. gyahahaha....
    bongkrek aja kemutan

    BalasHapus
  3. Aniiiiiiis! Whoaaa~ ngebaca tulisanmu kiye, aku ngakak sambil menangis terguling-guling beruraian air sumur kyeh Nuiz! trus dadi ngelih pengen mangan tahu aci, martabrak, plus rujak teplak original khas slawi sing biasa mangkal ngarep MC.. wkwk duh.. keren Nuiz tulisane~ :) miss you

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miss you too Wiew, pulanglah kembali.. aku pun merindumu ..
      Sedap komentarnya, tetep semangat melestarikan makanan khas kita. semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattt :)

      Hapus