Minggu, 23 Agustus 2015

Mengenai Sebuah Rasa


Apakah bisa sebuah perasaan dibuat dengan rangkaian kata yang mengalir setiap kali ia bersua?
Apakah bisa ketika hadir kemudian ia menjelma menjadi sebuah jawaban dari penantian yang telah lama?
Apakah bisa?

Sebait kata tidak bisa mewakili semua, kau tau, aku senang dengan permainan kata. Kau pun tau, terkadang aku muak ketika kata-kata itu berubah menjadi bualan. Namun mengapa kau tak kunjung paham dengan apa yang aku maksud selama ini?
Memang aku tak pandai menyapa duluan sepertimu menyapaku ketika kita sama sibuk dengan kegiatan kita masing-masing. Aku pun tak pandai mengutarakan rasa rindu kala kau jauh dari pandanganku. Aku hanya mampu membuat untaian kata; yah mungkin sama sepertimu; sama seperti untaian kata yang  kadang kau selipkan dalam sapaanmu itu.  Yang membuat untaian kataku berbeda dari milikmu hanyalah ketidak mampuanku untuk membuatmu tau mengenai kata itu. Yah, sekali lagi aku memang tak pandai menyapamu. Bahkan untuk menuliskan namamu dalam berandaku pun aku belum mampu.

Belum. Bukan berarti aku sepenuhnya tak mampu. Aku hanya belum mampu. Belum saja.

Mungkin ketika kau akhirnya lelah dalam sapaanmu, mungkin saat itu pula aku akan kehilangan sebuah kebiasaanku yaitu menanti sapaanmu. Namun apakah lantas aku mampu untuk menyapamu? Bahkan aku sendiri pun tak tau jawaban dari apa yang aku pertanyakan kepadamu.

Untukmu dan sapaanmu, semoga kau hadir sebagai pembunuh rindu yang tiada henti menikam rasaku.

"Untaian rasa yang kuselipkan,
Semoga mampu tuk meluluhkan
Hati pemilik senyum itu.."
[Sheila On7-Terlalu Singkat]

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Hahahaa makasih Kunto sudah menanggapi :)
      Walaupun ngena, tetep semangaatt yaaaaaa :)

      Hapus