Apakah bisa
sebuah perasaan dibuat dengan rangkaian kata yang mengalir setiap kali ia
bersua?
Apakah bisa
ketika hadir kemudian ia menjelma menjadi sebuah jawaban dari penantian yang
telah lama?
Sebait kata
tidak bisa mewakili semua, kau tau, aku senang dengan permainan kata. Kau pun
tau, terkadang aku muak ketika kata-kata itu berubah menjadi bualan. Namun
mengapa kau tak kunjung paham dengan apa yang aku maksud selama ini?
Memang aku
tak pandai menyapa duluan sepertimu menyapaku ketika kita sama sibuk dengan
kegiatan kita masing-masing. Aku pun tak pandai mengutarakan rasa rindu kala
kau jauh dari pandanganku. Aku hanya mampu membuat untaian kata; yah mungkin
sama sepertimu; sama seperti untaian kata yang
kadang kau selipkan dalam sapaanmu itu.
Yang membuat untaian kataku berbeda dari milikmu hanyalah ketidak
mampuanku untuk membuatmu tau mengenai kata itu. Yah, sekali lagi aku memang
tak pandai menyapamu. Bahkan untuk menuliskan namamu dalam berandaku pun aku
belum mampu.
Belum. Bukan
berarti aku sepenuhnya tak mampu. Aku hanya belum mampu. Belum saja.
Mungkin
ketika kau akhirnya lelah dalam sapaanmu, mungkin saat itu pula aku akan
kehilangan sebuah kebiasaanku yaitu menanti sapaanmu. Namun apakah lantas aku
mampu untuk menyapamu? Bahkan aku sendiri pun tak tau jawaban dari apa yang aku
pertanyakan kepadamu.
Untukmu dan
sapaanmu, semoga kau hadir sebagai pembunuh rindu yang tiada henti menikam
rasaku.
"Untaian
rasa yang kuselipkan,
Semoga mampu
tuk meluluhkan
Hati pemilik
senyum itu.."
[Sheila
On7-Terlalu Singkat]
Ngena nemen...
BalasHapusHahahaa makasih Kunto sudah menanggapi :)
HapusWalaupun ngena, tetep semangaatt yaaaaaa :)