Rabu, 06 Agustus 2014

Kunang Sewu



Aku menghempaskan tubuh lelahku di sebatang pohon yang tumbang. Aku tak memperdulikan hewan apa yang akan menjamah tubuhku di kayu besar itu. Betapa bodohnya aku. Lagi-lagi hanya kalimat itu yang muncul dalam benakku. Kalau saja tidak ada Antony di sini, entah bagaimana aku sekarang. Orang-orang bilang pendirianku yang kuat adalah satu keunggulan yang sangat spesial untukku. Tapi tidak bagiku. Karena pendirianku aku malah jadi seperti ini.





            Aku menerima pesananku, donat anggur dan es krim anggur dengan toping. Cafe yang cukup memukau di area pedesaan seperti ini. Desa Kunang Sewu. Inilah nama desa yang sedang aku kunjungi bersama dua temanku, Ghina dan Detty. Kami berniat menghabiskan libur akhir semester dengan mengunjungi Pak Lik dan Bu Lik Detty di Desa Kunang Sewu ini. Selain ingin menyambung tali silaturrahim, kami juga ingin mengetahui kebenaran dari cerita unik di balik nama Kunang Sewu ini.
            ” Orang bilang sih Kunang Sewu itu berasal dari kata kunang-kunang dan sewu atau seribu. Konon dulunya desa ini dipenuhi kunang-kunang. Jadi dinamakan Desa Kunang Sewu.” Jelas Detty disela makannya.
            ” Terus, apa kunang-kunangitu sekarang masih ’sewu’?” Tanya Ghina sambil membuat tanda kutip dengan jemarinya di kata sewunya.
            ” Pak Lik bilang sih, kunang-kunang itu masih ada. Dan jumlahnya mungkin masih seribu lebih. Tapi kunang-kunang itu tak sembarangan menampakan diri. Mereka hanya keluar saat bulan purnama. Dan itu pun tak sembarang tempat. Hanya aliran sungai kecil yang membentang yang ada di Hutan Kulon.”
            ” Apa ada yang pernah melihat?” Selidikku.
           ” Hm.” Detty mengangkat bahunya kemudian berkata palan, lirih, bahkan hampir tak terdengar. ” Kunang-kunang purnama itu piaraan Putri Bening. Jin penunggu Hutan Kulon,”
            Sejenak kami terdiam dan ” HWA . .. .” Kami bertiga tengah kaget setengah mati karena seorang Manager, pemilik, sekaligus pelayan Cafe Anggur ini tiba-tiba berada di sebelah meja kami menawarkan hidangan penutup yang disajikan gratis bagi setiap pengunjung.
            ” Maaf mengagetkan. Ini cupcakenya.” Ucapnya mempersilahkan. Kemudian melanjutkan.” Malam ini tepat tanggal 15 kalender Hijriyah. Saat bulan sedang bulat-bulatnya.”


            Aku menghela napas panjang. Kulayangkan pandanganku menuju langit yang tak berujung itu. Sinar rembulan masih membiaskan cahaya pada pepohonan yang menjulang tinggi ke atas sana. Jadi beginilah suasana malam purnama di tengah hutan seperti ini.
            ” Masih mau lanjut?” Tanyanya memecah keheningan. Aku hanya mengangkat bahu. ” Baiklah kita tunggu keputusanmu. Toh ini masih jam 8 lebih.”
            Aku memandangnya, dia hanya tersenyum. Segera aku memalingkan pandangan. Mengamati sekelilingku, berharap aku dapat menemukannya di sini. Tapi tentu saja, harapan yang kosong. Hatiku bimbang. Disatu sisi aku ingin sekali mengungkap kebenaran itu. Tapi disisi lain aku benar-benar ingin pulang. Kembali ke rumah Pak Lik, memandang bulan dari teras rumah bersama Ghina dan Detty. Dan melupakan cerita konyol atau entah apalah itu namanya.


            ” Kalian percaya tidak, kebenaran kunang-kunang piaraan Putri Bersih itu?’
            ” Bening! Putri Bening, bukan  Bersih. Be-e-be, ning-i-ning. Bening.” Eja Ghina dengan ejaannya yang semrawut.
            ” Ya antara percaya tidak percaya. Lagian kenapa juga kita mesti pusing. Hm, kamu terlalu bersemangat Yan.” UjarDetty.
            ” Aku penasaran.”
            ” Jangan gila deh Yan. Ide konyol apa ini? Pokoknya aku tidak mau. Buat apa kita menghabiskan waktu untuk hil yang mustahal itu.” Tolak Detty mentah-mentah. Dengan sekejap ia dapat membaca pikiranku.
            ” Kamu serius Yan? Aku akan bawa kotak  pensil beningku buat naruh kunang-kunang itu.” Tanggap Ghina.


            GUSRAK. Aku terjaga dari lamunanku.segara aku mengamati dari mana datangnya suara itu. Dan dalam sekejap aku menemukannya. Antony dengan sengaja atau tidak mengubah posisi kakinya hingga sepatunya bergesekan dengan dedaunan kering yang gugur dimakan usia. Aku rasa ia sengaja. Tapi mungkin tidak. Entahlah, apa yang aku pikirkan.
            ” Dikeadaan seperti ini jangan pernah kosongkan pikiran. Barangkali Putri Bening sedang mengincarmu.” Ucapnya sambil menatap jam tangannya.
            ” Kamu percaya jin?” Tanyaku kemudian. Dia mengangguk dan berbalik tanya kepadaku.
            ” Entahlah.” Hanya itu jawabanku.
            ” Bukankah dalam agama kita sudah dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dan itu sudah jelas bahwa  keberadaan  jin memang benar adanya. Bukankah seharusnya seorang pelajar SMA lebih tahu daripada seorang pemilik cafe di sebuah desa.”
            Aku merasa terindir, meski tak aku ungkapkan. Antony ini lebih dari hebat  menurutku. Mungkin usianya baru 22 atau 23. Tapi selain gagah dan berwibawa, pemilik cafe ini juga pintar dalam urusan agama. Dia juga baik, mau menolongku meskipun tak disengaja.
            Aku memang ke sini dengan dua sahabatku,  Detty dan Ghina. Tapi sekali lagi karena keteguhan pendirianku atau ’mungkin’ kekeraskepalaanku lebih tepatnya, kami terpisah. Mungkin mereka berdua sudah kembali ke rumah Pak Lik atau mungkain mereka masih berada dalam Hutan Kulon ini. Dan aku, aku menempuh jalan sendiri. Sendirian dalam Hutan Kulon yang lebat ini. Sekali lagi, sekali lagi aku harus mengakui kehebatan Antony. Dia begitu baik. Walau aneh memang ceritanya, tiba-tiba saja ada seorang pemilik cafe yang melintas tepian hutan, sendirian tanpa membawa apa-apa kecuali jam tangan yang selalu ia lirik.
            ” Apa menurut kamu kita lanjutkan perjalanan ini?” Tanyaku. Agak risih sebenarnya menggunakan kata ’kamu’  untuk memanggilnya. Kalau saja dia tidak melarangku, pasti aku gunakan sapaan ’Bapak’ untuk menghormatinya.
            ” Ayo jangan siakan waktu.” Ucapnya sambil berdiri.
            ” Tapi kita mesti kemana?” Tanyaku lagi.
            ” Menurut kamu?”
            ” Entahlah. Aku Cuma pendatang. Tak pernah tahu daerah ini.” Jawabku sambil membetulkan kerudung cokelatku yangtertiup angin kecil.
            ” Jalan lurus saja  dari sini.” Katanya. Kami berjalan beriringan. Kemudian ia melanjutkan.”Aku hanya menebak, kalau toh jalan ini benar, itu suatu keberuntungan bagi kita.  Seperti halnyaTian, aku pun pendatang. Baru beberapabulan aku buka cabang di sini. Ini pun atas permintaan Ibuku. Sebelumnya aku tak pernah mengenal desa ini karena aku berasal bari jauh. Jogja. Yah cukup jauhlah untuk bisa datang ke desa kecil ini.”
            Awalnya aku hanya mendengarkan, tapi akhirnya aku tertarik juga dengan ceritanya. Dia juga bercerita tentang usahanya, juga lika-liku hidupnya. Aku pun dengan seksama dan penuh keakraban ikut bercerita.
            Hembusan angin malam mulai menyapa. Angin malam yang dingin dan menusuk. Kurasakan badanku mulai merinding. Terdengar juga suara-suara binatang malam bersautan, seolah mereka sedang berbalas pantun. Aku menilik hp-ku.  Sekedar untuk melihat  jam, karena aku tahu tak mungkin ada sinyal di kawasan seperti ini. Pukul 11.30.  Pantas saja. Suasana lebih mencekam dari sebelumnya.
            Sudah berjam-jam kami berputar membelah hutan,tapi nihil. Tak ada satupun kunang-kunang yang terbang atau sekedar lewat  di hutan ini. Mungkin sebelum tidur. Imajinasi, penuh kebohongan, dan, dan aku mempercayainya. Oh, konyolnya aku.
            Angin malam semakin terasa, ditambah dengan gelapnya hutan, hanya bermandikan cahaya bulan yang menerobos dedaunan pohon yang menyelimuti hutan. Suara-suarapun terdengar  makin menakutkan, membuat  bulu kudukku berdiri bahkan hampir meloncat. Mungkin aku terbawa takut karena tak pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba langkah kami terhenti ketika Antony mengisyaratkan sesuatu. Aku sempat merasakan jantungku berdebar begitu kencang bahkan aku sangat merasakan aliran darah dalam tubuhku saat  Antony berkata ” Tian,kamu dengar itu?”
            Aku menahan napas saat  Antony diam mengamati sesuatu dan ” Ya, ayo Yan.”
            Antony menarik tas kecil yang aku bawa. Mungkin dia tidak ingin menarik lenganku. Dia menarikku berjalan lebih cepat lurus agak serong ke kanan. Dan tepat 100 meter dari posisi kami semula, ada sungai kecil yang airnya gemericik memecah kesunyian. Sungai itu memanjang, melintang atau membujur, entahlah. Yang pasti aku bisa bernapas lega karena bukan sesuatu yang buruk yang kami temui.
            Sinar rembulan indah sekali membias air sungai itu. Aku sangat bahagia bisa menemukan sungai dalam hutan ini. Mungkin inilah sungai yang orang-orang maksud. Tempat keluarnya kunang-kunang sewu milik . . .milik Putri Bening penunggu Hutan Kulon ini.
            Aku menelan ludah. Antara takut, senang, dan cemas. Sedang Antony, mungkin urat takut dan cemasnya sudah putus. Dari awal perjalanan sampai sekarang dia terlihat sangat tenang. Bahkan sekarang ia sedang memainkan jemarinya di air sambil duduk di batu tepian sungai. Sudah hampir setengah jam kami menunggu di tepian sungai ini, tapi sekali lagi nihil. Tak ada seekor pun kunang-kunang yang melintas. Seekor pun. Nyaris sekali aku putus asa, sampai tiba-tiba Antony kembali menarik tasku,menjauh dari tepian sungai itu. Dengan jarak sekitar 5 meter dari sungai, di balik semak yang tak begitu rimbun kami berhenti. Antony duduk dan menjelaskan kepadaku.
            ” Aku pernah mendengar dari Kang Dul, pemasok es batu di cafe, katanya kunang-kunang itu tak pernah mau keluar kalau ada orang di sekitar mereka. Kunang-kunang sewu ini sangat menyukai ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman. Mungkin kalau kita menyembunyikan diri dari mereka, mereka mau keluar.” Jelas Antony dengan segala filosofinya.
            ” Kamu yakin?”
            ” Entahlah. Ayo kita coba.”
            Lagi-lagi aku menuruti kehendak Antony. Kami duduk di batu besar di balik semak. Kami memasang mata setajam-tajamnya. Mengawasi arena sungai, berharap dapat menemukannya di sini. Sudah 15menit kami tak bersuara, mengamati keadaan sungai dan seolah keajaiban yang aku temukan. Perlahan rombongan kunang-kunang yang memancarkan cahaya keemasan berdatangan. Terbang dan seolah bercanda satu sama lain.
            Subhanallah. Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Dengan senyum yang mengembang aku menatap bahagia ke arah Antony. Dia pun tersenyum,manis sekali.
            Aku kembali memperhatikan peri-peri kecil itu terbang. Aku mencoba menghitung jumlahnya.Satu, dua, tiga, ah entahlah berapa jumlahnya. Yang jelas tidak sampai sewu atau seribu. Mungkin hanya berkisar dua puluh atau tiga puluhan saja. Mungkin termakan zaman, pikirku.
            Ah, aku tak peduli jumlahnya. Aku terlalu bahagia untuk melihat peri-peri kecil itu terbang. Dengan segera aku membuka tas dan mengambil kotak bening milik Ghina. Aku berdiri dan ”maaf”. Dengan segera kata itu terlontar dari mulut Antony saat tangannya refleks memegang lenganku, walaupun sebenarnya terhalang lengan bajuku yang panjang.kemudian aku duduk kembali menunggu penjelasan Antony.
            ”Ingat Etika Pecinta Alam. Jangan meninggalkan sesuatu di hutan kecuali jejak. Jangan memburu sesuatu kecuali waktu. Dan jangan mengambil sesuatu kecuali gambar. Ini.” Ujarnya sambil menyodorkan sebuah kamera digital.
            Darimana ia mendapatkannya? Setahuku yang ia bawa hanya jam tangan. Apa mungkin ia masukkan saku? Ah tak penting. Aku lagsung mengambil beberapa gambar. Tak lupa aku meminta Antony untuk memotretku dengan background kunang-kunang sewu itu.
            ” Ehem. Nona kecil, hampir jam 3 pagi. Belum puas lihat kunang-kunang sewunya?”
            ”Ah iya, aku tak pernah puas.” kataku sambil tersenyum. Senyum bahagiaku. ” Tenang, hm damai sekali melihat mereka.”
            ” Iya. Damai. Pantas Putri Bening betah di sini.” Katanya datar. Aku menatapnya ingin tertawa.
” Pulang yuk.” Ajakku kemudian.
            Kami berdua kembali menyusuri hutan. Mencoba peruntungan menemukan jalan pulang. Hingga suara adzan subuh berkumandang. Alhamdulillah kami dapat melacak arah suara tersebut. Mushola Al Ikhlas. Satu-satunya mushola di kelurahan ini. Aku segera mengambil air wudhu, begitu pun Antony. Kukenakan mukena mushola dan segera mengikuti sholat subuh berjamaah.seusai sholat, kulihat  hp-ku penuh dengan sms Ghina dan Detty. Aku segera memberi kabar tentang keberadaanku. Belum sampai 10 menit, mereka sudah datang ke mushola. Ghina dibonceng oleh Detty menggunakan Jupiter milik Kang Inung, di belakangnya Pak Lik dan Bu Lik menggunakan supra hitam Pak Lik.
            Aku segera dipeluk dan diborong beberapa pertanyaan yang hanya mampuaku jawab dengan seulas senyum.  Aku melirik barisan pria, dan aku menemukannya di sebelah tempat wudlu pria
” Tian. Kamu tuh semalaman di hutan sama siapa Yan?”
” Sama Antony.”
” Hah? Antony?? Siapa dia???”
Aku langsung melirik Antony dan dia menaruh telunjuknya di depan mulutnya, seolah mengisyaratkan agar aku tak memberi tahu yang lain. Aku pun tersenyum.
” Antony. Penunggu Hutan Kulon mungkin. Kabarnya Putri Bening lengser.” aku tersenyum dan kembali menatap Antony, namun dia sudah tidak ada.

Satu minggu kemudian saatnya kami meninggalkan Desa Kunang Sewu. Desa yang penuh kenangan ini. Kini sudah saatnya aku menemui dia untuk mengembalikan kamera digitalnya sekaligus berpamitan. Aku akan menemui Antony sendiri dengan menggunakan Jupiter Kang Inung.
” Maaf, anda mencari saya?”
Aku membalikkan badan dan, dan siapa dia? Dia bukan Antony.
” Hallo. Anda mencari saya?” Tanyanya lgi.
” Em, an-anda siapa?”
” Perkenalkan saya Adrian. Pemilik cafe ini.”
” Sejak kapan? Lalu, lalu Antony?”
” Sejak Ayah saya buka cabang di sini. Siapa Antony?”
Aku tak bisa berkata-kata. Tatapan orang ini, begitu teduh di balik kacamatanya. Bukan. Dia bukan Antony. Aku menunduk, tak berani menatapnya. Tatapan itu.
” Dhik?” Sapanya lagi. Suaranya begitu indah di telingaku. Aku tersenyum dan menyodorkan kamera digital Antony, namun dia menolak karena itu bukan haknya. Dia tersenyum. Manis.sangat manis.
Tiba-tiba kaki ini terasa lemas. Aku berpamitan. Berpamitan dengan Adrian, pemilik cafe. Sekali lagi, bukan Antony, tapi Adrian. Lalu, siapa Antony itu. Antony yang menemani ekspedisiku malam itu. Apa mungkin Antony itu benar-benar . . .??

*  *  *
Juli 2012

2 komentar:

  1. Hayoloh Nuiz.. Anthony bukan manusia yah? Jangan2 dia itu pangeran berkacamata yg tinggal dalam sanubarimu.. cieee.. haha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ecieeeeee sedaaaaappp...
      Antony cuma sosok dalam sebuah kisah Wiew, sayangnya ini nggak ada di dunia nyata. Kalau ada, sisain gue satu Wiew :)

      Hapus