Aku menghempaskan tubuh
lelahku di sebatang pohon yang tumbang. Aku tak memperdulikan hewan apa yang
akan menjamah tubuhku di kayu besar itu. Betapa bodohnya aku. Lagi-lagi hanya
kalimat itu yang muncul dalam benakku. Kalau saja tidak ada Antony di sini,
entah bagaimana aku sekarang. Orang-orang bilang pendirianku yang kuat adalah
satu keunggulan yang sangat spesial untukku. Tapi tidak bagiku. Karena
pendirianku aku malah jadi seperti ini.
Aku
menerima pesananku, donat anggur dan es krim anggur dengan toping. Cafe yang
cukup memukau di area pedesaan seperti ini. Desa Kunang Sewu. Inilah nama desa
yang sedang aku kunjungi bersama dua temanku, Ghina dan Detty. Kami berniat
menghabiskan libur akhir semester dengan mengunjungi Pak Lik dan Bu Lik Detty
di Desa Kunang Sewu ini. Selain ingin menyambung tali silaturrahim, kami juga
ingin mengetahui kebenaran dari cerita unik di balik nama Kunang Sewu ini.
”
Orang bilang sih Kunang Sewu itu berasal dari kata kunang-kunang dan sewu atau
seribu. Konon dulunya desa ini dipenuhi kunang-kunang. Jadi dinamakan Desa
Kunang Sewu.” Jelas Detty disela makannya.
”
Terus, apa kunang-kunangitu sekarang masih ’sewu’?” Tanya Ghina sambil membuat
tanda kutip dengan jemarinya di kata sewunya.
”
Pak Lik bilang sih, kunang-kunang itu masih ada. Dan jumlahnya mungkin masih
seribu lebih. Tapi kunang-kunang itu tak sembarangan menampakan diri. Mereka
hanya keluar saat bulan purnama. Dan itu pun tak sembarang tempat. Hanya aliran
sungai kecil yang membentang yang ada di Hutan Kulon.”
”
Apa ada yang pernah melihat?” Selidikku.
”
Hm.” Detty mengangkat bahunya kemudian berkata palan, lirih, bahkan hampir tak
terdengar. ” Kunang-kunang purnama itu piaraan Putri Bening. Jin penunggu Hutan
Kulon,”
Sejenak
kami terdiam dan ” HWA . .. .” Kami bertiga tengah kaget setengah mati karena
seorang Manager, pemilik, sekaligus pelayan Cafe Anggur ini tiba-tiba berada di
sebelah meja kami menawarkan hidangan penutup yang disajikan gratis bagi setiap
pengunjung.
”
Maaf mengagetkan. Ini cupcakenya.” Ucapnya mempersilahkan. Kemudian melanjutkan.”
Malam ini tepat tanggal 15 kalender Hijriyah. Saat bulan sedang
bulat-bulatnya.”
Aku
menghela napas panjang. Kulayangkan pandanganku menuju langit yang tak berujung
itu. Sinar rembulan masih membiaskan cahaya pada pepohonan yang menjulang
tinggi ke atas sana. Jadi beginilah suasana malam purnama di tengah hutan
seperti ini.
”
Masih mau lanjut?” Tanyanya memecah keheningan. Aku hanya mengangkat bahu. ”
Baiklah kita tunggu keputusanmu. Toh ini masih jam 8 lebih.”
Aku
memandangnya, dia hanya tersenyum. Segera aku memalingkan pandangan. Mengamati
sekelilingku, berharap aku dapat menemukannya di sini. Tapi tentu saja, harapan
yang kosong. Hatiku bimbang. Disatu sisi aku ingin sekali mengungkap kebenaran
itu. Tapi disisi lain aku benar-benar ingin pulang. Kembali ke rumah Pak Lik,
memandang bulan dari teras rumah bersama Ghina dan Detty. Dan melupakan cerita
konyol atau entah apalah itu namanya.
”
Kalian percaya tidak, kebenaran kunang-kunang piaraan Putri Bersih itu?’
”
Bening! Putri Bening, bukan Bersih.
Be-e-be, ning-i-ning. Bening.” Eja
Ghina dengan ejaannya yang semrawut.
”
Ya antara percaya tidak percaya. Lagian kenapa juga kita mesti pusing. Hm, kamu
terlalu bersemangat Yan.” UjarDetty.
”
Aku penasaran.”
”
Jangan gila deh Yan. Ide konyol apa ini? Pokoknya aku tidak mau. Buat apa kita
menghabiskan waktu untuk hil yang mustahal itu.” Tolak Detty mentah-mentah.
Dengan sekejap ia dapat membaca pikiranku.
”
Kamu serius Yan? Aku akan bawa kotak pensil beningku buat naruh kunang-kunang itu.”
Tanggap Ghina.
GUSRAK.
Aku terjaga dari lamunanku.segara aku mengamati dari mana datangnya suara itu.
Dan dalam sekejap aku menemukannya. Antony dengan sengaja atau tidak mengubah
posisi kakinya hingga sepatunya bergesekan dengan dedaunan kering yang gugur
dimakan usia. Aku rasa ia sengaja. Tapi mungkin tidak. Entahlah, apa yang aku
pikirkan.
”
Dikeadaan seperti ini jangan pernah kosongkan pikiran. Barangkali Putri Bening
sedang mengincarmu.” Ucapnya sambil menatap jam tangannya.
”
Kamu percaya jin?” Tanyaku kemudian. Dia mengangguk dan berbalik tanya
kepadaku.
”
Entahlah.” Hanya itu jawabanku.
”
Bukankah dalam agama kita sudah dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan
jin hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dan itu sudah jelas bahwa keberadaan
jin memang benar adanya. Bukankah seharusnya seorang pelajar SMA lebih
tahu daripada seorang pemilik cafe di sebuah desa.”
Aku
merasa terindir, meski tak aku ungkapkan. Antony ini lebih dari hebat menurutku. Mungkin usianya baru 22 atau 23.
Tapi selain gagah dan berwibawa, pemilik cafe ini juga pintar dalam urusan
agama. Dia juga baik, mau menolongku meskipun tak disengaja.
Aku
memang ke sini dengan dua sahabatku,
Detty dan Ghina. Tapi sekali lagi karena keteguhan pendirianku atau
’mungkin’ kekeraskepalaanku lebih tepatnya, kami terpisah. Mungkin mereka
berdua sudah kembali ke rumah Pak Lik atau mungkain mereka masih berada dalam
Hutan Kulon ini. Dan aku, aku menempuh jalan sendiri. Sendirian dalam Hutan Kulon
yang lebat ini. Sekali lagi, sekali lagi aku harus mengakui kehebatan Antony.
Dia begitu baik. Walau aneh memang ceritanya, tiba-tiba saja ada seorang
pemilik cafe yang melintas tepian hutan, sendirian tanpa membawa apa-apa
kecuali jam tangan yang selalu ia lirik.
”
Apa menurut kamu kita lanjutkan perjalanan ini?” Tanyaku. Agak risih sebenarnya
menggunakan kata ’kamu’ untuk
memanggilnya. Kalau saja dia tidak melarangku, pasti aku gunakan sapaan ’Bapak’
untuk menghormatinya.
”
Ayo jangan siakan waktu.” Ucapnya sambil berdiri.
”
Tapi kita mesti kemana?” Tanyaku lagi.
”
Menurut kamu?”
”
Entahlah. Aku Cuma pendatang. Tak pernah tahu daerah ini.” Jawabku sambil
membetulkan kerudung cokelatku yangtertiup angin kecil.
”
Jalan lurus saja dari sini.” Katanya.
Kami berjalan beriringan. Kemudian ia melanjutkan.”Aku hanya menebak, kalau toh
jalan ini benar, itu suatu keberuntungan bagi kita. Seperti halnyaTian, aku pun pendatang. Baru
beberapabulan aku buka cabang di sini. Ini pun atas permintaan Ibuku. Sebelumnya
aku tak pernah mengenal desa ini karena aku berasal bari jauh. Jogja. Yah cukup
jauhlah untuk bisa datang ke desa kecil ini.”
Awalnya
aku hanya mendengarkan, tapi akhirnya aku tertarik juga dengan ceritanya. Dia
juga bercerita tentang usahanya, juga lika-liku hidupnya. Aku pun dengan
seksama dan penuh keakraban ikut bercerita.
Hembusan
angin malam mulai menyapa. Angin malam yang dingin dan menusuk. Kurasakan
badanku mulai merinding. Terdengar juga suara-suara binatang malam bersautan,
seolah mereka sedang berbalas pantun. Aku menilik hp-ku. Sekedar untuk melihat jam, karena aku tahu tak mungkin ada sinyal
di kawasan seperti ini. Pukul 11.30.
Pantas saja. Suasana lebih mencekam dari sebelumnya.
Sudah
berjam-jam kami berputar membelah hutan,tapi nihil. Tak ada satupun
kunang-kunang yang terbang atau sekedar lewat
di hutan ini. Mungkin sebelum tidur. Imajinasi, penuh kebohongan, dan,
dan aku mempercayainya. Oh, konyolnya aku.
Angin
malam semakin terasa, ditambah dengan gelapnya hutan, hanya bermandikan cahaya
bulan yang menerobos dedaunan pohon yang menyelimuti hutan. Suara-suarapun
terdengar makin menakutkan, membuat bulu kudukku berdiri bahkan hampir meloncat.
Mungkin aku terbawa takut karena tak pernah mengalami kejadian seperti ini
sebelumnya. Tiba-tiba langkah kami terhenti ketika Antony mengisyaratkan
sesuatu. Aku sempat merasakan jantungku berdebar begitu kencang bahkan aku
sangat merasakan aliran darah dalam tubuhku saat Antony berkata ” Tian,kamu dengar itu?”
Aku
menahan napas saat Antony diam mengamati
sesuatu dan ” Ya, ayo Yan.”
Antony
menarik tas kecil yang aku bawa. Mungkin dia tidak ingin menarik lenganku. Dia
menarikku berjalan lebih cepat lurus agak serong ke kanan. Dan tepat 100 meter
dari posisi kami semula, ada sungai kecil yang airnya gemericik memecah
kesunyian. Sungai itu memanjang, melintang atau membujur, entahlah. Yang pasti
aku bisa bernapas lega karena bukan sesuatu yang buruk yang kami temui.
Sinar
rembulan indah sekali membias air sungai itu. Aku sangat bahagia bisa menemukan
sungai dalam hutan ini. Mungkin inilah sungai yang orang-orang maksud. Tempat
keluarnya kunang-kunang sewu milik . . .milik Putri Bening penunggu Hutan Kulon
ini.
Aku
menelan ludah. Antara takut, senang, dan cemas. Sedang Antony, mungkin urat takut
dan cemasnya sudah putus. Dari awal perjalanan sampai sekarang dia terlihat
sangat tenang. Bahkan sekarang ia sedang memainkan jemarinya di air sambil
duduk di batu tepian sungai. Sudah hampir setengah jam kami menunggu di tepian
sungai ini, tapi sekali lagi nihil. Tak ada seekor pun kunang-kunang yang
melintas. Seekor pun. Nyaris sekali aku putus asa, sampai tiba-tiba Antony
kembali menarik tasku,menjauh dari tepian sungai itu. Dengan jarak sekitar 5
meter dari sungai, di balik semak yang tak begitu rimbun kami berhenti. Antony
duduk dan menjelaskan kepadaku.
”
Aku pernah mendengar dari Kang Dul, pemasok es batu di cafe, katanya
kunang-kunang itu tak pernah mau keluar kalau ada orang di sekitar mereka.
Kunang-kunang sewu ini sangat menyukai ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman.
Mungkin kalau kita menyembunyikan diri dari mereka, mereka mau keluar.” Jelas
Antony dengan segala filosofinya.
”
Kamu yakin?”
”
Entahlah. Ayo kita coba.”
Lagi-lagi
aku menuruti kehendak Antony. Kami duduk di batu besar di balik semak. Kami
memasang mata setajam-tajamnya. Mengawasi arena sungai, berharap dapat
menemukannya di sini. Sudah 15menit kami tak bersuara, mengamati keadaan sungai
dan seolah keajaiban yang aku temukan. Perlahan rombongan kunang-kunang yang
memancarkan cahaya keemasan berdatangan. Terbang dan seolah bercanda satu sama
lain.
Subhanallah.
Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Dengan senyum yang mengembang aku menatap
bahagia ke arah Antony. Dia pun tersenyum,manis sekali.
Aku
kembali memperhatikan peri-peri kecil itu terbang. Aku mencoba menghitung
jumlahnya.Satu, dua, tiga, ah entahlah berapa jumlahnya. Yang jelas tidak
sampai sewu atau seribu. Mungkin hanya berkisar dua puluh atau tiga puluhan
saja. Mungkin termakan zaman, pikirku.
Ah,
aku tak peduli jumlahnya. Aku terlalu bahagia untuk melihat peri-peri kecil itu
terbang. Dengan segera aku membuka tas dan mengambil kotak bening milik Ghina.
Aku berdiri dan ”maaf”. Dengan segera kata itu terlontar dari mulut Antony saat
tangannya refleks memegang lenganku, walaupun sebenarnya terhalang lengan
bajuku yang panjang.kemudian aku duduk kembali menunggu penjelasan Antony.
”Ingat Etika Pecinta Alam. Jangan meninggalkan sesuatu di hutan kecuali jejak.
Jangan memburu sesuatu kecuali waktu. Dan jangan mengambil sesuatu kecuali
gambar. Ini.” Ujarnya sambil menyodorkan sebuah kamera digital.
Darimana
ia mendapatkannya? Setahuku yang ia bawa hanya jam tangan. Apa mungkin ia
masukkan saku? Ah tak penting. Aku lagsung mengambil beberapa gambar. Tak lupa
aku meminta Antony untuk memotretku dengan background kunang-kunang sewu itu.
”
Ehem. Nona kecil, hampir jam 3 pagi. Belum puas lihat kunang-kunang sewunya?”
”Ah
iya, aku tak pernah puas.” kataku sambil tersenyum. Senyum bahagiaku. ” Tenang,
hm damai sekali melihat mereka.”
”
Iya. Damai. Pantas Putri Bening betah di sini.” Katanya datar. Aku menatapnya
ingin tertawa.
” Pulang yuk.” Ajakku
kemudian.
Kami
berdua kembali menyusuri hutan. Mencoba peruntungan menemukan jalan pulang.
Hingga suara adzan subuh berkumandang. Alhamdulillah kami dapat melacak arah
suara tersebut. Mushola Al Ikhlas. Satu-satunya mushola di kelurahan ini. Aku
segera mengambil air wudhu, begitu pun Antony. Kukenakan mukena mushola dan
segera mengikuti sholat subuh berjamaah.seusai sholat, kulihat hp-ku penuh dengan sms Ghina dan Detty. Aku
segera memberi kabar tentang keberadaanku. Belum sampai 10 menit, mereka sudah
datang ke mushola. Ghina dibonceng oleh Detty menggunakan Jupiter milik Kang
Inung, di belakangnya Pak Lik dan Bu Lik menggunakan supra hitam Pak Lik.
Aku
segera dipeluk dan diborong beberapa pertanyaan yang hanya mampuaku jawab
dengan seulas senyum. Aku melirik
barisan pria, dan aku menemukannya di sebelah tempat wudlu pria
” Tian. Kamu tuh semalaman di
hutan sama siapa Yan?”
” Sama Antony.”
” Hah? Antony?? Siapa dia???”
Aku langsung melirik Antony
dan dia menaruh telunjuknya di depan mulutnya, seolah mengisyaratkan agar aku
tak memberi tahu yang lain. Aku pun tersenyum.
” Antony. Penunggu Hutan Kulon
mungkin. Kabarnya Putri Bening lengser.” aku tersenyum dan kembali menatap
Antony, namun dia sudah tidak ada.
Satu minggu kemudian saatnya
kami meninggalkan Desa Kunang Sewu. Desa yang penuh kenangan ini. Kini sudah
saatnya aku menemui dia untuk mengembalikan kamera digitalnya sekaligus berpamitan.
Aku akan menemui Antony sendiri dengan menggunakan Jupiter Kang Inung.
” Maaf, anda mencari saya?”
Aku membalikkan badan dan, dan
siapa dia? Dia bukan Antony.
” Hallo. Anda mencari saya?”
Tanyanya lgi.
” Em, an-anda siapa?”
” Perkenalkan saya Adrian.
Pemilik cafe ini.”
” Sejak kapan? Lalu, lalu
Antony?”
” Sejak Ayah saya buka cabang
di sini. Siapa Antony?”
Aku tak bisa berkata-kata.
Tatapan orang ini, begitu teduh di balik kacamatanya. Bukan. Dia bukan Antony.
Aku menunduk, tak berani menatapnya. Tatapan itu.
” Dhik?” Sapanya lagi.
Suaranya begitu indah di telingaku. Aku tersenyum dan menyodorkan kamera digital
Antony, namun dia menolak karena itu bukan haknya. Dia tersenyum. Manis.sangat
manis.
Tiba-tiba kaki ini terasa
lemas. Aku berpamitan. Berpamitan dengan Adrian, pemilik cafe. Sekali lagi,
bukan Antony, tapi Adrian. Lalu, siapa Antony itu. Antony yang menemani
ekspedisiku malam itu. Apa mungkin Antony itu benar-benar . . .??
* * *
Juli 2012
Hayoloh Nuiz.. Anthony bukan manusia yah? Jangan2 dia itu pangeran berkacamata yg tinggal dalam sanubarimu.. cieee.. haha :D
BalasHapusEcieeeeee sedaaaaappp...
HapusAntony cuma sosok dalam sebuah kisah Wiew, sayangnya ini nggak ada di dunia nyata. Kalau ada, sisain gue satu Wiew :)